Koalitsiya-SV dikategorikan sebagai senjata hasil pengembangan zaman Soviet yang diwujudkan oleh para tenaga ahli sesuai dengan kondisi saat ini.
Rabu, 3 Desember 2014, 20:51 WIBDenis Kungurov
Koalitsiya-SV
dikategorikan sebagai senjata hasil pengembangan zaman Soviet yang
diwujudkan oleh para tenaga ahli sesuai dengan kondisi saat ini. Meski
senjata ini merupakan salah satu teknologi muktahir modern, tetapi
prinsip dan ide dasar senjata tersebut telah dikembangkan pada era
1970-an. Pada era tersebut, ide tidak diimbangi dengan kemampuan teknis
yang dimiliki negara, sehingga realisasi Koalitsiya-SV baru bisa
dilakukan sekarang.
Pakar
militer independen Oleg Zheltonozhko menceritakan, pekerjaan pembuatan
artileri bergerak mandiri dilakukan dengan penamaan “Iset”, namun saat
ini proyek tersebut telah berganti nama menjadi Koalitsiya-SV. SV adalah
singkatan untuk sukhoputniye voyska (pasukan angkatan darat).
Zheltonozhko menambahkan, proyek tersebut juga kini tengah mengembangkan
satuan tempur tipe baru yang dapat digunakan dalam sistem persenjataan
lain seperti pada sistem persenjataan angkatan laut.
Koalitsiya-SV Versus PzH2000 dan M-109
“Ketiadaan
personel ahli dalam modul senjata menjadi ciri khas penting dalam
konstruksi senjata Koalitsiya-SV,” terang pakar militer independen untuk
kendaraan lapis baja Aleksey Khlopotov kepada RBTH. “Jika howitzer
Rusia Msta-S tertinggal dalam spesifikasi teknis dari howitzer masa kini
lainnya terutama dalam hal otomatisasi, maka Koalitsiya-SV telah
menutup kesenjangan tersebut dan terus melaju ke depan, terutama dari
segi keamanan personelnya yang berada di bagian hidung kendaraan tempur
tersebut”.
Dalam
mengoperasikan meriam PzH 2000 buatan Jerman, para tentara berisiko
mengalami cedera, sebab meriam tersebut tidak dilindungi oleh mekanisme
hentakan tembak yang keras. “Spesifikasi teknis seperti mekanisme
pengisian ulang pneumatik pada tank tersebut memberi keandalan dan
kecepatan tembak yang tinggi. Mekanisme gelombang mikro
pengapian propelling charge (pendorong proyektil) meningkatkan kekuatan
balistik dari senjata tersebut,” terang Aleksey Khlopotov.
Koalitsiya-SV
memiliki massa yang lebih ringan (48 ton) dan dimensi yang lebih kecil
dibanding meriam analognya, howitzer PzH2000. Jalur kereta api secara
tradisional telah menjadi jalur transportasi utama persenjataan Rusia
dengan kemampuan menahan beban hingga 50 ton. Faktor ini juga
meringankan tugas pengangkutan melalui jalur udara.
Sebelum
kehadiran Koalitsiya-SV, pemimpin di pasar senjata dunia dalam kategori
artileri bergerak mandiri adalah howitzer AS M-109. Posisi tersebut
diraih senjata itu berkat kemudahan dalam pengoperasian dan harga yang
terjangkau. Namun, para pakar menjelaskan bahwa produk keluaran Rusia
terbaru yang diperuntukan bagi diekspor kelak akan dibanderol lebih
murah dibanding howitzer serupa buatan AS.https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=4685723613490208298#editor/target=post;postID=6231604162390513457
Senjata Generasi Baru: Spesifikasi Taktis-Teknis
Koalitsiya-SV
bisa digolongkan sebagai senjata generasi terbaru. Artileri bergerak
mandiri ini mampu mengenai objek darat yang berjarak hingga 70 kilometer
dalam moda penembakan berat (heavy fire). Teknologi baru pengisian
ulang mampu mempercepat fase persiapan untuk penembakan proyektil dan
dalam hitungan satu menit sudah dapat mengubah posisinya.
Senjata
ini dioperasikan oleh awak yang berjumlah dua hingga tiga orang, yang
ditempatkan di bagian hidung sasis dengan menggunakan sistem kendali
yang terkomputerisasi.
Howitzer
baru ini akan menggantikan Msta-S yang akan menjadi uzur di tahun 2020
nanti. “Peralihan ke penggunaan sistem baru, modular dan fleksibel dalam
pembentukan propelling charge dan perawatan terhadap sistem separate
loading merupakan perubahan baru yang dimiliki oleh Koalitsiya-SV. Itu
adalah tendensi yang ada dalam persenjataan artileri saat ini. Bagi
sistem artileri Rusia, hal tersebut merupakan terobosan menuju era yang
baru,” terang Oleg Zheltonozhko.
SUMBER:
http://dunia.news.viva.co.id/rbth/read/26117/koalitsiya-sv-raja-meriam-rusia-abad-ke-21
http://www.military-today.com

0 komentar:
Posting Komentar